Dua hal yang sampai saat ini tak pernah bisa kumengerti dan kupahami. Kedua hal yang sangat dipuja manusia itu benar-benar membingungkanku. Beberapa pertanyaan mengenai hati dan cinta terus-menerus memenuhi benakku. Apa itu hati. . ? Dan. . Untuk apakah hati itu digunakan? Bagaimana dengan cinta? Apakah definisi cinta yang sebenarnya. . .? Untuk apa cinta itu ada? Kenapakah hampir dari banyak orang memuja cinta dengan berlebihan. . ? Bukankah ada banyak orang pula yang harus takluk dihadapan kepahitan dan kesakitan yang di perbuat oleh cinta itu sendiri? Lalu. . kenapa hati yang harus sakit saat cinta itu tak terbalas?
Aku benar-benar tak mengerti. Bahkan, sampai aku merasakan sendiri bagaimana cinta itu datang menghampiriku. Bermula dengan sangat menyenangkan dan menyejukkan hati bagai menemukan oasis di tengah padang gurun yang amat panas; akan tetapi berakhir dengan merenggut kebahagiaan hati itu dan meracuninya dengan kepahitan-kepahitan dari cinta itu sendiri. Sebenarnya, seberapa dekatkah jarak antara hati dan cinta itu? Berhubungankah mereka?
Aku masih tak mengerti.
Meski hatiku pernah mengalami hal pahit yang diperbuat oleh sebuah perasaan bernama cinta.
Tak pernah tahu, bagaimana asalnya. Dan pula, tak pernah tahu apalah
namanya. Yang jelas, mukaku merona merah dan jantungku serasa berdetak
lebih kencang dari biasanya ketika aku melihat sosok itu.
Aneh. Aku tak pernah merasakan yang seperti itu pada orang lain. Hanya pada sosok itu, sebuah perasaan tiba-tiba terus bergolak dalam hatiku. Aku tak mengerti. Kenapa hanya pada sang sosok itu, aku merasakan perasaan aneh tersebut? Apakah gerangan perasaan itu?
“Itu. . Cinta,” jawab Rianne, sahabatku, saat aku menanyakan perasaan aneh yang selama ini membuatku penasaran. Aku termanggu. Benarkah itu cinta? Aku bahkan tak tahu apa itu cinta. Definisi dari perasaan yang bernama cinta saja aku tak begitu paham. Bagaimana Rianne bisa menyimpulkan –bahwa perasaan aneh yang selalu tiba-tiba muncul saat aku bertemu sosok itu, adalah cinta?
“Apabila bertemu. . .kamu berdebar-debar, ingin berguna baginya, dan ingin selalu bisa melihatnya. . maka itulah cinta. Sebuah perasaan berharga yang telah dimiliki manusia semenjak pertama kali melihat dunia. Kita harus bisa menjaga dan merawat perasaan itu baik-baik. Jika tidak, mungkin bukan manis yang dirasakan. . tapi hati terhujam bukan main pahit rasanya. . .” ujar Sitta, sahabatku yang lain, seolah tahu apa yang ingin kutanyakan saat itu pada Rianne.
“Benarkah seperti itu? Jadi. . mungkin perasaan yang saat ini kurasakan itu adalah cinta?” tanyaku masih belum paham. Sitta menganggukkan kepalanya, tapi Rianne tidak.
“Antara Ya dan Tidak. Mungkin saja itu cinta atau. . .hanya sebuah obsesi-ingin-memiliki belaka. . .”ucap Rianne. Aku kembali termenung. Obsesi-ingin-memiliki. . ? Kalimat itu terpoatri jelas dalam ingatanku. Sungguh, apakah itu berhubungan erat dengan cinta?
“Bahkan ada orang yang bersikeras mengatakan bahwa itu adalah cinta. Padahal dia tak tahu, bahwa dia hanya berobsesi-ingin-memiliki saja. . .” tambah Rianne lagi.
“Apakah bedanya antara Cinta dengan obsesi-ingin-memiliki itu?” aku masih belum puas bertanya.
“Aku tak tahu, Re. Aku bukan konsultan percintaan. . .” Rianne mungkin sedikit kesal, karena aku terus-menerus bertanya tentang cinta kepadanya. Aku terkikik kecil. Sitta pun melakukan hal yang sama.
“Jadi. . .” Sitta menghentikan tawa kecilnya, lalu menatap ke arahku, “siapa orang yang telah membuatmu bingung karena perasaan-aneh-yang-hanya-muncul-saat-bertemu-DIA itu?” tanyanya.
Aku balas menatapnya, tapi aku tak segera menjawab pertanyaannya itu. Aku terdiam sebentar, menghela nafas.
***
Sosok itu adalah Riga. Seorang yang kuketahui adalah merupakan kakak
kelasku, satu tingkat di atasku. Entah kenapa, perasaan aneh itu selalu
muncul tiba-tiba hanya pada saat bertemu atau kebetulan berpapasan
dengannya. Bahkan aku sebenarnya, belum begitu mengetahui siapa sosok
Kak Riga itu. Yang kuketahui hanyalah
namanya-Riga-dan-dia-adalah-kakak-kelasku.
“Aku merasa heran, kenapa aku berdebar melihatnya? Padahal, aku kenal dia saja tidak. . .” ucapku pada Sitta dan Rianne. Mereka berdua menatapku.
“Itu mungkin love-at-first-sight. Cinta-pada-pandangan-pertama. Bisa saja kamu tak mengenalnya, tapi jatuh cinta kan tak harus selalu pada orang yang dikenal saja. . .” jelas Rianne (lagi-lagi) padaku.
Aku manggut-manggut mengerti.
“Kalau kamu memang jatuh cinta sama Kak Riga, aku akan bantu mengenalkanmu padanya. . . “ ucap Rianne lagi. Kali ini, ia menawarkan sesuatu yang cukup menarik bagiku. Aku sedikit terkejut.
“Memangnya. . .kamu kenal sama Kak Riga. . ?” tanya Sitta yang (lagi-lagi) seolah tahu apa yang ingin kutanyakan pada Rianne. Rianne tak langsung menjawab, tapi dia tersenyum menatap kami.
“Dia sepupuku. Sudah jelas aku mengenalnya. Bahkan yang kuketahui. . .dia sekarang sedang sendiri. Dan aku tak menyangka, bahwa salah satu dari sahabatku jatuh cinta kepadanya. . .” Rianne terkikik geli. Aku tak bisa menutup-nutupi rasa senang yang kurasakan saat ini. Aku tersenyum sumringah. Entah kenapa, pikiranku saat itu hanya ingin berkenalan dengan sosok Kak Riga. Sosok yang membuatku jatuh cinta untuk. . . kedua kalinya.
***
Kedua kali. . .??
Ya, kedua kali.
Sebelum ini. . .aku memang pernah merasakan hal yang sama dengan apa yang kurasakan saat ini. Hanya saja, dengan orang yang berbeda. Meski sama-sama merupakan kakak kelasku.
Dan aku tak berani menganggap itu adalah cinta pertamaku. Karena, saat
itu aku masih belum pantas mengenal cinta. Aku memang berdebar apabila
bertemu dengannya, ingin selalu berguna baginya, dan ingin selalu
melihatnya. Bahkan, tiba-tiba ada segelintir perasaan ingin memilikinya.
Aku tak tahu, apakah itu cinta. . . atau hanya obsesi-ingin-memiliki
seperti yang dikatakan Rianne padaku?
Entahlah.
Yang jelas, kini aku berubah benci padanya. Bukan berdebar-debar seperti yang kurasakan dulu. Aneh memang. Padahal dia hanya mengatakan “aku tak menyukaimu” padaku, tapi. . .satu kalimat itu membuat hatiku serasa terhujam oleh beratus-ratus pisau yang amat tajam. Sakit teramat sangat.
Kata-kata itu ternyata sanggup mengubah rasa suka menjadi rasa benci
yang amat dalam. Benar kata orang. Bahwa, dinding yang memisahkan antara
benci dengan cinta itu teramat tipis. Bisa saja, sekarang kita
menyukainya. . .tapi di kemudian hari tiba-tiba kita berubah jadi
membencinya.
Seorang yang mencuri perhatianku dulu itu adalah Rio. Kakak kelasku juga
di SMA Yudhistira ini. Bahkan, bersahabat baik dengan Kak Riga yang
tengah aku sukai sekarang. Aku teramat benci kepadanya, dari sejak dia
mengatakan hal yang sangat menyakitkanku -ketika aku masih SMP- sampai
dengan sekarang. Hampir empat tahun aku menjauhinya dan berusaha untuk
tak bertemu dengannnya. Bahkan, untuk berbicara pun tidak. Meski aku
dengan dia sama-sama masuk anggota klub Basket, tapi. . tak pernah aku
mengeluarkan sepatah katapun dengannya. Selain karena aku tak sudi untuk
berbicara dengannya –walau hanya satu kata pun– dia juga merupakan
orang yang begitu dingin dan hampir tak pernah berbicara dengan orang
lain. Saking dinginnya, banyak cewek-cewek yang bernasib sama sepertiku
dulu. Tak ada satu cewek pun yang ia jadikan seorang yang istimewa alias
pacarnya. Padahal, banyak sekali cewek-cewek cantik yang
mengejar-ngejar dia. Tapi, hasilnya tetap sama. Nihil.
Sikapnya itu sangat berbeda dengan sikap Kak Riga yang periang tetapi tetap berkharisma. Kak Riga pun termasuk the-most-wanted-boy di SMA Yudhistira ini (sama hal-nya dengan Rio). Hanya saja, Kak Riga lebih ramah terhadap siapa saja. Sangat bertolak belakang dengan Rio. Tapi, anehnya. . .mereka berdua bisa bersahabat dengan baik.
“Karena mereka merupakan teman sejak kecil. . .” jawab Rianne ketika kutanyakan hal itu kepadanya.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” tanyaku lagi di sela-sela pelajaran olahraga yang tengah kuikuti saat itu. Rianne tersenyum.
“Lupakah kamu? Aku kan sepupu Riga. . .bahkan, aku pun merupakan teman dekat Rio. Jadi. . sudah semestinya aku tahu. .” aku manggut-manggut. Ingat. Rianne memang dekat dengan Rio. Bahkan, saat aku menyukai Rio pun. . aku meminta tolong pada Rianne.
“Mengapa kau tanyakan hal itu?” tanya Rianne sedikit penasaran. Aku menggelengkan kepalaku.
“Cuma ingin tahu saja”.
***
Aku berdebar-debar. Saat tanganku dan tangan Kak Riga berjabat satu sama lain.
“Hai, namaku Riga. Katanya, kamu temannya Rianne, ya?” ucapnya membuka pembicaraan.
Aku tersenyum malu-malu.
“Ya. Aku teman Rianne. Emh. . .mungkin lebih tepatnya, Sahabat. .” jawabku seraya berusaha menutupi kegugupanku. Kak Riga tersenyum. Dan aku terpana menatapnya. Oh Tuhan. . .inikah senyum malaikat itu?
Rianne dan Sitta yang berada masing-masing disampingku, hanya bisa tertawa cekikikan. Aduuh, semoga saja wajahku tak memerah. . .
“Ngg. . .rasanya aku kenal dengan wajahmu. Bukankah. . . kamu itu orang yang pernah menyukai Rio? Eh, benar kan Rio?” tanya Kak Riga seraya menoleh ke arah Rio yang berada di sampingnya. Aku serasa tertusuk belati. Jleb! Aku sangat terkejut. Aku pun melihat perubahan wajah Rio yang sama-sama terlihat kaget sepertiku. Tanpa kusadari, kami berdua bertemu pandang. Tapi, hanya sebentar. . karena Rio memalingkan wajahnya terlebih dulu. Aku mendengus sebal.
“Huh. . .cuma sebuah masa lalu. . .” ucapnya dingin dan benar-benar membuat amarahku naik. Aku melirik sebal padanya. Acara kenalanku dengan Kak Riga, yang seharusnya berjalan mulus, ternyata harus terganggu oleh seekor iblis bernama Rio. Tapi, aku segera mengendalikan perasaanku. Jangan terlalu memperdulikan orang yang tak penting seperti orang itu, batinku dalam hati.
“Berarti benar, ya? Akhirnya, aku tahu juga orang yang selama ini selalu di ceritakan Rio. . .” Kak Riga tersenyum. Aku dan Rio sama-sama terkejut dengan ucapan itu. Rio selalu menceritakan aku di hadapan Kak Riga? Maksudnya?
“He, hei. .! Kamu. . . .” Rio berusaha meprotes perkataan Kak Riga. Kulihat ia menatap tajam ke arah Kak Riga. Tapi, Kak Riga malah cuek.
“Ahaha. . kalau begitu, senang berkenalan dengan gadis cantik sepertimu Rere. . .”lanjut Kak Riga kemudian. “Aku masih ada kelas. Jadi, sampai ketemu lagi, ya. . semuanya. . “ lalu, Kak Riga pun berlalu dari hadapanku bersama-sama dengan Rio. Aku tersenyum pada Kak Riga; tapi tidak untuk setan yang mendampinginya.
“Ah, ada yang senang sudah kenalan dengan orang yang istimewa. . .” ledek Sitta. Aku tersenyum –lebih tepatnya tersipu-sipu-. Beda dengan Sitta yang meledek, Rianne justru merasa ada yang aneh. Terlihat dari air mukanya yang tiba-tiba menjadi penuh keheranan dan tanda tanya.
“Kalian tak ada yang merasa aneh dengan ucapan Riga tadi. . .?” tanyanya padaku dan Sitta. Aku mengerutkan kening. Sitta menggelengkan kepalanya.
“Memangnya ada apa, Rianne. . .? Kenapa kau bersikap seolah-olah keheranan begitu?” tanya Sitta. Aku mangangguk setuju dengan apa yang ditanyakan Sitta.
“Jangan-jangan. . . “ Rianne menggumam sambil menatapku. Aku bingung. Apa yang sebenarnya ingin Rianne katakan?
“Ahh. . .ngga jadi. . aku lapar. Aku ingin pergi ke kantin. Mau ikut?” tanyanya kemudian. Aku mengangkat bahu; terserah. Sitta mengangguk saja. Akhirnya kami bertiga berjalan menuju kantin.
Aku tak tahu ternyata ada sesuatu yang mengganggu pikiran Rianne. Aku tak tahu.
***
Hari demi hari berlalu. Aku serasa terbang dan tak lagi tinggal di dunia. Bagaimana tidak? Hampir setiap hari aku bagaikan berada di surge, karena senyuman malaikat itu. Ya, senyum Kak Riga kini menghiasi hari-hariku. Sejak berkenalan, aku dengan Kak Riga makin akrab. Aku sangat senang sekali. Akhirnya, aku bisa dekat dengan seseorang yang kusukai.
Hari ini, aku pun tengah melihat Kak Riga yang sedang ikut Klub Volley dari pinggiran lapangan Basket Outdoor. Kebetulan, jadwal Klub Volley dengan Klub Basket bersamaan dan letak lapangannya bersebelahan. Jadi, aku sangat beruntung bisa melihat Kak Riga dengan kaos olahraganya yang basah karena keringat. Benar-benar tampan. Aku jadi malu-malu sendiri saat mengatakan hal itu. Tapi, Kak Riga itu memang benar-benar tampan.
Ah, sekilas dia tersenyum padaku. Manis. Hatiku berdebar tak keruan. Tapi, aku berhasil mengontrol perasaanku itu. Aku membalas senyum itu. Senangnya. . .
“Hei, kamu suka Riga, ya?” tiba-tiba seseorang mendekatiku dan duduk disampingku. Aku menoleh. Rio?!
“A, apa. . ?” tanyaku meminta Rio untuk mengulangi pertanyaannya. Rio menoleh padaku dengan tatapan dingin. Seperti biasanya.
“Aku nanya. . .kamu suka sama Riga?”
Aku terkejut mendengar pertanyaannya itu. Tiba-tiba wajahku bersemburat merah. Kenapa Rio menanyakan hal itu?
“I, itu bukan urusanmu, kan?” ucapku ketus tapi sedikit gugup, tanpa berani balas menatap mata dingin Rio. Kudengar dengusan kesal dari sebelahku.
“Huh, benar memang itu bukan urusanku. Tapi aku berhak bertanya, kan?” balasnya tak kalah ketus. Aku memandang sinis padanya.
“Kenapa, kamu tiba-tiba bertanya hal seperti itu?”
“Aku hanya ingin tahu saja, kok”
Aku berpura-pura tak mendengar lagi apa yang dikatakan Rio. Saat ini, aku begitu malas berbicara dengannya. Entahlah, aku sedikit heran. Kenapa dia tiba-tiba mau berbicara denganku? Jujur, ini pertama kalinya aku berbicara dengannya; sejak empat tahun yang lalu. Bahkan, tak pernah sekalipun dalam empat tahun itu dia berbicara (seperti ini) padaku. Tapi, kini? Aneh. Ada angin apa dia tiba-tiba mau berbicara denganku?
“Aku hanya memperingatkanmu. Sebaiknya, jangan terlalu mengejarnya. Mungkin saja, itu tak akan sesuai dengan apa yang kau harapkan. . . “ ujarnya tiba-tiba, seraya bangun dari duduknya. Aku menoleh, sedikit terkejut.
“Apa maksudmu? Untuk apa aku harus mendengar nasihat konyol dari orang sepertimu?” tanyaku (masih) ketus. Tapi, Rio tak menoleh lagi. Dia melenggang pergi meninggalkan lapangan. Aku masih terheran-heran dengan perkataan Rio tadi. Apa maksud dari kata-katanya itu?
***
Malam ini, aku dengan kedua sahabatku itu tengah menikmati indahnya malam di rumah Rianne. Setiap malam minggu, para jombloers seperti kami selalu mengadakan acara pajamas party. Kali ini, di rumah Rianne –yang kebetulan jaraknya dekat sekali dengan rumah Kak Riga. Tentu, sejujurnya aku mempunyai maksud tertentu ingin menginap di rumah Rianne. Kalian sendiri, pasti tahu apa maksudku.
Kegiatan pajamas party itu, dimulai dengan acara saling mengungkapkan kegundahan hati masing-masing. Tak pernah ada kebohongan diantara kami. Semua jujur mengungkapkan kegundahan hatinya. Karena hal seperti itulah, hubungan persahabatan kami begitu awet.
“Ah, Re. . . bagaimana kelanjutan hubunganmu dengan Kak Riga. . .?” tanya Rianne hingga mampu membuatku tersipu. Aku tersenyum malu-malu.
“Hubungan apa, sih? Kami kan hanya teman. . .”aku berusaha mengelak. Tapi, rupanya tak bisa. Rianne dengan mudahnya bisa membaca perasaanku.
“Aahh, teman-apa-teman. . . .??” ledek Rianne makin menjadi-jadi. Sehingga wajahku makin bersemburat merah. Akhirnya, aku hanya bisa menunduk malu, saat Rianne menertawakan sikapku itu.
“Ahahaha. . .wajahmu memerah. Persis kepiting rebus! Lucu sekali. . ya, kan. . Tta?” tawa Rianne seraya meminta pendapat Sitta. Tiba-tiba raut wajah Sitta berubah. Gugup.
“A, ah? I, iya. .lucu sekali. . “ucapnya sedikit gugup. Aku dan Rianne terheran-heran dengan sikap Sitta yang tak seperti biasanya.
“Kamu kenapa, Sitta? Kamu sakit?” tanyaku. Tapi, Sitta buru-buru tersenyum.
“Aku tak apa-apa. Sungguh. . .aku tak apa-apa,”
“Ya, sudah kalau benar kamu tak apa-apa. Eh, eh. . Re. . aku ada sesuatu hal yang menarik untuk mu. . .” ucapan Rianne membuatku penasaran.
“Apa itu?”
“Begini, dua hari yang lalu. . aku tak sengaja mendengar percakapan antara Riga dan Rio. Kamu tahu tidak, apa yang dibicarakan mereka?” jelas aku menggelengkan kepalaku kuat-kuat. Karena memang aku tak tahu jawabannya. Lalu, Rianne meneruskan ceritanya.
“Ternyata, ada cewek yang tengah disukai Riga. Dan, yang aku dengar dia siswi kelas XI. .” ucapnya sedikit antusias. Aku melonjak antusias sekaligus berdebar-debar. Siapa sisiwi kelas XI yang sedang disukai Kak Riga saat ini?
“Dan lagi katanya, siswi kelas XI itu sedang dekat dengannya saat ini. Wah, mungkin saja itu kamu, Re!” lanjut Rianne lagi. Dan (lagi-lagi) perkataan Rianne itu membuatku semakin merasa berdebar. Antara keyakinan untuk percaya diri, atau sebaliknya. Benarkah, itu?
“Mmm. . . Rianne, aku ingin ke kamar mandi. Bisa minta tolong antarkan aku?” pinta Sitta tiba-tiba. Kami menoleh padanya.
“Oh, ya. . .boleh. Ayo, aku antarkan. .” Lalu, mereka pun keluar dari kamar Rianne. Aku yang saat itu berdebar-debar, berubah arah menjadi terheran-heran. Sikap Sitta menjadi sedikit aneh. Ada apa, ya?
Saat menunggu mereka kembali dari kamar mandi, aku melihat ada sebuah telepon genggam dengan model yang sangat menarik perhatianku di atas tempat tidur. Kuraih telepon genggam itu. Milik siapa, ya?
Aku iseng-iseng membuka berbagai fitur yang ada dalam telepon genggam itu. Aku tak tahu siapa pemilik handphone mungil ini. Aku tak peduli. Dengan niat iseng, aku menekan fitur ‘Contact’. Dan kulihat ada beberapa nama dengan nomor teleponnya masing-masing di sana. Tapi, mataku tertarik pada satu nama: ‘2164-c4k3p’ dengan nomor yang sangat ku kenal. Aku sedikit susah untuk membacanya huruf (??) apa itu.
Tapi, seketika aku merasakan jantungku mencelos ketika aku berhasil membaca huruf yang terbilang kekanakkan itu; '2164 c4k3p'. Dengan rasa penasaran sekaligus berdebar-debar, kubuka fitur sms dalam handphone itu. Dan terjawablah rasa penasaranku tadi. Sebagian dari pesan-pesan singkat itu, bukan hanya menjawab rasa penasaranku. Tapi juga, membuatku mengetahui siapa pemilik handphone itu. Aku benar-benar tak menyangka. Dia ternyata. . .
***
“Re. . .kamu lihat Rianne ngga?” tanya Sitta padaku yang tengah membereskan buku-buku di perpustakaan. Aku menoleh padanya, lalu tersenyum dan menggelengkan kepala.
“Aku tak tahu. Akhir-akhir ini, sikap Rianne benar-benar berbeda. Seperti ada sesuatu yang di sembunyikan. Ada apa, ya?” aku jadi terbawa dalam kebingungan. Memang, sudah seminggu ini, aku dan Sitta hampir tak pernah bareng-bareng dengan Rianne. Entah kenapa, ada saja alasan yang dibuatnya saat kami berdua mengajaknya. Aku jadi semakin heran. Kenapa Rianne tiba-tiba seperti itu? Jangan-jangan. . .
“Ah, ya sudah kalau begitu. Mmm. . .Re. .aku pulang duluan, ya. Aku ada keperluan penting di rumah. . “ pamit Sitta padaku. Lamunanku buyar. Lalu, aku tersenyum padanya.
“Oh, ya. . . silakan. Aku bisa pulang sendiri, kok” jawabku tulus. Akhirnya, Sitta melambaikan tangan padaku, dan melenggang pergi meninggalkanku diantara tumpukan buku-buku yang masih harus kubereskan.
Sebenarnya, saat ini aku masih merasakan sakit hati. Semenjak aku membuka kenyataan di balik handphone milik salah seorang dari sahabatku itu, aku benar-benar seperti jatuh ke jurang yang amat dalam. Bagaimana tidak? Betapa kecewanya aku, ketika tahu bahwa ada salah seorang sahabatku yang tak jujur padaku. Bahwa, aku dan dia menyukai seorang cowok yang sama. Masih lebih baik jika dia berbicara jujur, dan mungkin aku tak akan se-kecewa ini terhadapnya. Tapi, hampir seminggu sejak kejadian itu. . .tak pernah aku menerima penjelasan dari sahabatku itu tentang hubungannya dengan Kak
Riga.
Aku benar-benar kecewa.
Sakit rasanya, ketika tahu ada salah seorang sahabat yang sangat kupercayai sepenuh hati, bahkan sudah kuanggap sebagai seorang saudara sendiri. . kini menyakitiku dengan cara mengecewakanku. Hatiku lebih hancur karena dikecewakan oleh sahabat daripada oleh sebuah kepahitan cinta.
Karena tak dapat kubendung, air bening dari mataku jatuh beruraian
membasahi pipiku. Hatiku teramat perih, ditusuk beratus-ratus jarum
kekecewaan. Bahkan, luka-luka akibat tusukan tersebut mungkin akan
membekas. Menjadi sebuah memori pedih seorang diriku.
“Permisi. . .”
Karena terlalu ‘asyik’ meratapi hati yang perih, aku sampai tak sadar ada seseorang yang tiba-tiba datang. Aku sangat mengenal suara itu. Refleks, aku menoleh ke arah pintu masuk perpustakaan –yang letaknya tak jauh dari tempat aku membereskan buku-buku-. Ternyata. . .pemilik suara itu Rio!
Seperti yang telah kuduga sebelumnya.
Aku buru-buru memalingkan wajah, dan mengahapus sisa-sisa air bening di pipiku –yang merasa tak puas dan ingin terus keluar dari mataku-. Aku berharap, Rio tak melihatku dalam keadaan buruk seperti ini.
“Ma, maaf. . .perpustakaan sudah tutup. Ada keperluan apa kamu kemari. . .?” tanyaku dengan suara sedikit serak akibat menangis tadi. Rio tak menjawab pertanyaanku. Kenyataannya, dia malah berjalan menghampiriku. Aku sedikit terkejut, tapi. . aku berusaha untuk tak menoleh padanya.
“Kenapa?” tanyanya datar. Aku menunduk, mencari alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan Rio itu.
“A, aku. . .Ah. . mataku kemasukkan debu saat membereskan buku-buku, haha. . “ aku tertawa paksa, seraya berpura-pura mengucek-ngucek mataku. Rio tak ikut tertawa. Dia hanya diam. Tapi, tangannya meraih beberapa buku yang tergeletak berantakan di atas meja. Buku-buku, yang niatnya akan kubereskan dan ku masukkan ke dalam rak.
“Nangis?” ucapnya datar tapi blak-blakan, seraya menyimpan beberapa buku ke dalam rak dan tanpa menoleh padaku sedikitpun. Aku terdiam. Ucapannya itu memang benar. Tapi, mana mungkin aku mengaku padanya, bahwa aku memang habis menangis.
“Bu, bukan . .urusanmu!” elakku ketus. Rio kembali diam, dan tak membalas kata-kataku. Dia malah sibuk membereskan buku-buku yang seharusnya aku yang membereskan. Padahal, aku tak pernah memintanya untuk membereskan buku-buku itu.
Hening beberapa saat. Yang terdengar hanyalah suara buku-buku yang di masukkan ke dalam rak-rak. Akupun ikut terbawa suasana hening itu. Kami sama-sama diam dan tak berbicara satu patah kata pun.
Setelah selesai membereskan buku, Rio tiba-tiba memintaku untuk menjulurkan tangan.
“Untuk apa. . .?” tanyaku heran, tapi tetap dengan sikap tak menoleh ke arahnya. Dia tak menjawab pertanyaanku. Dia malah menyodorkan sebatang cokelat bermerek ChunkyBar ke tanganku.
“Aku tak tahu apa masalah yang tengah mengganggu pikiranmu. Kuharap dengan makan itu, perasaanmu bisa lebih tenang sedikit. . .” katanya (masih) datar, seraya melenggang pergi keluar dari perpustakaan. Aku sedikit terkejut dengan apa yang dilakukan Rio terhadapku. Dia memberiku.. cokelat? Sungguh, suatu sikap yang aneh bagiku. Kenapa dia tumben-tumbenan memberiku sebatang cokelat?
Ah. . .entahlah.
Tapi, jujur. . .dengan dia memberiku cokelat itu, aku merasa sedikit nyaman. Pikiranku tak terasa berat seperti tadi. Mungkin, dia memang berniat menghiburku.
“Terima kasih. . .” gumamku dalam hati.
Semoga saja. . satu kalimat itu tersampaikan.
***
Siang ini, sepertinya akan turun hujan lebat. Hal itu ditandai dengan sang mentari yang tak bisa menampakkan dirinya akibat gerombolan awan kumulus hitam yang menghalangi sinarnya. Aku harus cepat-cepat pulang ke rumah sebelum hujan turun. Sebab, sialnya aku lupa membawa payung. Kukira, hari ini tak akan hujan.
Aku berlari-lari keluar kelas menuju gerbang. Dan secepat mungkin, menemukan angkot yang akan membawaku pulang ke rumah. Tapi, di tengah jalan –tepatnya sebelum pintu gerbang- . .aku berpapasan dengan dua sahabatku. Rianne dan Sitta. Terpaksa aku hentikan langkah seribuku dan menghampiri mereka. Wajah mereka terlihat begitu serius. Sepertinya, ada hal yang ingin mereka bicarakan denganku. Hal yang sangat penting.
Dan. . benar apa kataku. Mereka memang ingin berbicara serius denganku.
“Apa yang ingin kalian bicarakan denganku. .?” tanyaku memulai pembicaraan. Rianne menatap serius padaku.
“Sebenarnya. . .ada satu hal yang harus kamu ketahui. Tapi, sebelumnya. . .kamu jangan marah. Sebab, ada perkataan-perkataan yang mungkin akan menyakitimu. . “ akhirnya aku tahu. .kemana arah tujuan pembicaraan itu. Hatiku bergolak. Tapi, kusembunyikan rapat-rapat. Dan berusaha tetap tenang.
“Aku janji tak akan marah. Ada apa sebenarnya. . .?”
Rianne menghela nafas sejenak.
“Sebenarnya. . . ada orang lain yang di sukai Riga. Dan. . .orang itu. . .bukan kamu. . “ ucapnya sedikit terbata-bata –mungkin karena ingin menjaga perasaanku. Aku diam, tak berkata apa-apa. Padahal, sebenarnya jantungku terus-menerus berdetak lebih kencang dari biasanya. Hatiku tiba-tiba serasa perih. Seakan-akan luka-luka yang telah terobati. . kini menganga kembali.
Kenapa aku seperti ini? Bukankah, aku telah mempersiapkan diriku matang-matang untuk berjaga-jaga bahwa hari ini akan tiba? Tapi. . .kenapa hatiku begitu perih. . panas . .dan sangat sakit. . ?? Seakan-akan. . .ingin memuncratkan seluruh ungkapan perasaan yang selama ini terpendam. Apakah ini yang dinamakan sakit hati?
Aku masih diam dan tak berkata apa-apa. Meski hatiku hancur, tapi. . aku berusaha mengontrol perasaanku. Aku berusaha bersikap setenang mungkin. Seolah-olah tak terjadi apa-apa.
“Emm. . .a, aku ingin meminta maaf padamu, Rere. Aku mungkin telah bersikap tak jujur padamu. Tapi, kulakukan itu. . karena aku malu dan takut menyakiti hatimu. Ini semua di luar dugaanku. Tak kusangka, ternyata Kak Riga menyukaiku. Dan, aku tak dapat membohongi perasaanku sendiri. Akupun menyukainya, meski aku tahu. . .bahwa sahabatku tengah mengejar-ngejar dirinya. Aku sangat bersalah padamu, Rere. . .Maafkan aku. Aku tak pantas menjadi sahabatmu. Kamu boleh tak menganggapku sebagai sahabatmu lagi. . karena aku telah terlanjur mengecewakanmu. . dan. . menyakiti hatimu. . “ air bening itu akhirnya keluar deras dari mata indah sahabatku. Aku tak bisa bersikap sok tenang. Meski hatiku terus bergolak, dan ingin rasanya mengeluarkan amarah yang terpendam; tapi. . tak mungkin kulakukan. Karena bagaimanapun juga. . .dia merupakan sahabatku.
“Aku tahu. Aku sudah tahu sejak dulu. . .” ucapku sambil mengontrol emosiku. Kedua sahabatku terkejut dengan pernyataanku. Sudah tahu?
“Ya. . .sudah sejak lama aku mengetahuinya. Tapi. . bagiku tak apa. Mungkin, Kak Riga itu bukan untukku. Lagipula. . mana mungkin aku tak menganggapmu sebagai sahabatku hanya karena masalah ini. . .? Itu tidak mungkin!! Aku telah menganggap kalian sebagai saudaraku sendiri. Betapa teganya aku, jika aku harus memusuhimu gara-gara masalah yang tak penting seperti ini?? Kamu tetap sahabatku. Dan sampai kapanpun, kamu masih sahabatku. . .!! Aku tak akan marah karena ini. . . “ aku tak bisa membendung derasnya air bening yang memaksa keluar dari mataku. Meski hatiku masih tetap bergolak. Meski hatiku perih. . .bagai tertusuk pedang yang sangat tajam. Tapi, aku masih tetap menghargai sahabatku. Bagaimanapun juga, menurutku… Sahabat itu lebih penting daripada Cinta.
Sitta memelukku dengan penuh haru. Dia masih membisikkan kata maaf di telingaku. Tapi. . . aku telah memaafkannya dari dulu. Rianne ikut-ikutan menangis dan memeluk kami berdua. Bahkan hingga rintik-rintik kecil hujan itu akhirnya menjatuhi bumi. Aku sudah tak peduli, baju seragam yang kupakai akan basah. Karena yang lebih kupedulikan adalah para sahabatku ini.
“Sebaiknya. . .kalian pulang saja. Sebelum hujan menjadi lebih lebat. . .” saranku pada mereka, sesaat setelah melepaskan pelukan.
“Tapi, kamu sendiri bagaimana. . .?” tanya Rianne khawatir. Aku tersenyum tulus.
“Tak apa-apa. Sebentar lagi aku akan mencari angkot. Kalian pulang duluan saja, nanti kehujanan. Jangan khawatirkan aku. . .”
Akhirnya, mereka pun pergi dari hadapanku setelah melambaikan tangan mereka masing-masing. Aku membalas lambaian mereka dan tersenyum tulus. Satu masalah selesai. Meski sakit dan perih yang harus kutanggung, tapi. . .itu adalah bagian dari pengorbanan.
Air mataku kembali jatuh, tepat saat hujan yang sangat deras turun. Entah kenapa, aku membiarkan diriku terbalut dinginnya air hujan. Dan, entah kenapa pula. . hujan itu bisa membuat beban pikiranku lenyap tak ada sisa. Hari ini, bisa saja aku melepaskan cinta yang selama ini kukejar. Tapi. . .aku yakin. Di kemudian hari. . . entah esok, lusa. . atau mungkin sekarang, aku akan mendapatkan cinta yang lebih indah. Mendapatkan seseorang yang memang menyukaiku dan aku menyukainya pula.
Mendapat belahan jiwa yang sehati dan mau menerimaku apa adanya.
Aku membentangkan tanganku, menengadahkan wajahku, memejamkan mataku. . .melawan hujan yang membasahi tubuh kurusku. Sungguh, aku pun tak dapat membedakan antara air mata atau hujan yang membasahi pipiku ini. Tapi. . .aku yakin. Kebahagiaan akan datang menghampiriku. Saat ini saja, aku sudah merasa bahagia. Tapi. . .aku masih merasakan ada sesuatu yang kurang dalam kebahagiaan itu. Apakah yang kurang itu?
“Seperti orang bodoh saja. . .membentangkan tangan di bawah hujan deras. . “ tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku. Suara itu. . meski tak terdengar jelas karena hujan, tapi. . aku mengenalnya. Aku pun menoleh ke arah sumber suara.
“Rio. . .?!?” teriakku senang seraya menurunkan kedua tanganku.
Senang?!
Bukankah, aku membencinya?! Kenapa aku begitu senang, saat Rio ada di sini?
Entahlah. . aku bahkan tak mengerti kenapa aku begitu senang ada Rio di sini. Mungkinkah permohonanku terkabul?
“Pelampiasan sakit hati, rupanya. . .?” tanyanya seraya terkekeh. Baru pertama kalinya aku melihat dia tertawa –meski hanya tertawa kecil. Manis sekali.
Aku tersenyum, “Mungkin, saja. .” kataku. “Ehm. . .kenapa kamu tahu aku sedang sakit hati. . .?” tanyaku kemudian. Rio menghentikan tawanya. Dia terdiam sejenak, sebelum akhirnya menjawab.
“Aku sudah tahu dari dulu. Sejak aku tahu bahwa kamu menyukai Riga, sedangkan Riga tengah menyukai sahabatmu. Bukankah aku sudah memperingatimu dulu, untuk tidak terlalu mengejar Riga? Karena. . mungkin saja tak akan sesuai dengan harapanmu. Sekarang buktinya. . . .” jelasnya panjang lebar. Aku kembali terdiam mendengar penjelasan itu. Ternyata. . .itulah yang ia maksud saat di lapangan Basket dulu itu? Hem. . .kenapa saat itu, aku tak menangkap maksudnya. . .? Mungkin saja, sekarang aku tak akan sesakit ini. . .
“Sudahlah. . . nasi telah terlanjur menjadi bubur. Itu memang kenyataan yang harus aku hadapi. Tak selamanya. . . cinta itu harus memiliki. Mungkin saja, Kak Riga bukan untukku. Tapi, aku yakin. . .ada orang lain disana. . .yang memang benar-benar ada untukku. . “ kataku optimis, lalu menoleh ke arah Rio. Rio kembali tersenyum menatapku.
“Bodoh” gumamnya pelan. Aku tak mendengar dengan jelas, karena suara hujan yang masih lebat.
“Apa. . ? Kalau bicara itu yang keras . . aku tak mendengar apa yang kau katakan. .” aku meminta Rio untuk mengulangi perkataannya.
Tapi. . .bukannya mengulangi perkataannya. Rio malah berjalan mendekatiku. Aku terkejut. Wajahnya berada dekat sekali denganku. Saking terkejutnya, aku tak bisa berbuat apa-apa saat bibir hangat Rio dengan tiba-tiba menyentuh kulitku dengan cepat. Mengecupnya dengan lembut. Jantungku terus berdebar tak keruan. Aku hampir tak bisa mengontrol perasaanku. Di bawah hujan deras. . .dia. . .
. .dia. . .mencium pipiku. . .!!
Aku sampai terbawa suasana. Meski (jujur) aku senang, tapi. . .masih ada beberapa pertanyaan yang memenuhi kepalaku. Kenapa Rio tiba-tiba menciumku. . ? Apakah dia. . .?
Tak lama, Rio akhirnya melepaskan bibirnya dari pipiku. Tapi, bukan berarti. . .aku berhenti dari keterkejutan. Selesai menciumku, Rio langsung memelukku. Erat sekali. (Lagi-lagi) aku terkejut. Bisikan beberapa kalimat ‘Keramat’ itu, mampu membuatku terperangah. Aku tak percaya. Bahkan, lebih-lebih tak percaya. Apa yang kudengar dari bisikannya itu benar-benar tidak mungkin.
“Aku menyukaimu. . .Rere. .” bisiknya di telingaku pelan. Meski hujan deras, tapi aku bisa mendengarnya.
Aku terkejut. Lidahku tiba-tiba kelu. Aku tak bisa mengeluarkan kata-kata yang ingin aku keluarkan. Sejak kapan. . ? Sejak kapan Rio menyukaiku. . .?
“Aku menyukaimu. . .semenjak aku mengatakan ‘aku tak menyukaimu’ padamu dulu, ketika SMP. Masih, ingatkah. .? Sejak saat itu, kamu tiba-tiba menjadi membenciku. . dan selalu menghindariku. Aku yang biasanya selalu di kejar-kejar olehmu kemanapun aku pergi. . .tiba-tiba merasa sepi. Tak tahu bagaimana asalnya. . tiba-tiba aku merasa ingin di kejar-kejar dan diganggu lagi olehmu, Rere. Dan kusadari. . aku mulai jatuh cinta padamu. Aku benar-benar menyukaimu. Aku sayang padamu, Rere. . .perasaanku ini benar-benar tulus. . . aku menginginkanmu menjadi orang teristimewa dalam hidupku. . .” jelas Rio panjang lebar, seakan tahu apa yang ingin kutanyakan kepadanya.
Ternyata, dia menyukaiku semenjak dia mengatakan hal yang membuatku benci sekali padanya. Hihi. . .benar-benar lucu. kejadian yang berbanding terbalik satu-sama lain. Aku benar-benar tak menyangka akan ada kejadian seperti ini dalam hidupku. Tuhan benar-benar mengabulkan permohonanku. Akhirnya, aku menemukan pelengkap hidupku. Dialah Rio. Cinta pertamaku; orang yang telah merebut hatiku untuk pertama kalinya. Aku benar-benar bahagia. Bahagia sekali. Semoga ini tak akan cepat berakhir. Aku ingin selamanya seperti ini.
“Aku juga menyukaimu. . .” bisikku di telinganya, seraya membalas pelukan eratnya.
Dalam satu hari itu. . . aku mengalami dua kejadian yang tak akan aku
lupakan seumur hidupku. Dalam satu hari itu. . .aku merasakan patah hati
yang amat perih dan membekas di hati. Tapi. . .dalam satu hari itu
juga. . . aku menemukan cinta yang pantas untuk mengobati bekas-bekas
luka hati yang perih itu. . .
*T A M A T*
*laguku untuk Kak Riga*
Kuakui ku sangat-sangat menginginkanmu. . .
Tapi kini ku sadar ku diantara kalian. . .
Aku. . . tak mengerti. . .
Ini semua harus terjadi. . .
Kuakui ku sangat-sangat mengharapkanmu. . .
Tapi kini ku sadar ku tak akan bisa. . .
Aku tak mengerti. . .
IIni semua harus terjadi. . .
Lupakan aku kembali padanya. . .
Aku bukan siapa-siapa untukmu. . .
Ku cintaimu. . .
tak berarti bahwa. . .
Ku harus memilikimu selamanya. . . (DIANTARA KALIAN – D’MASIV)
Tapi kini ku sadar ku diantara kalian. . .
Aku. . . tak mengerti. . .
Ini semua harus terjadi. . .
Kuakui ku sangat-sangat mengharapkanmu. . .
Tapi kini ku sadar ku tak akan bisa. . .
Aku tak mengerti. . .
IIni semua harus terjadi. . .
Lupakan aku kembali padanya. . .
Aku bukan siapa-siapa untukmu. . .
Ku cintaimu. . .
tak berarti bahwa. . .
Ku harus memilikimu selamanya. . . (DIANTARA KALIAN – D’MASIV)
***
(. . .This short story. . . 50 % based on true story. . .)
copyright (C) FY 2007
P.S. This story have published on another blog of mine http://catatanpilia.blogspot.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar